“Ada yang masih di tangga ketiga tapi sudah merasa di tangga kesepuluh, ada yang sudah di tangga kesepuluh masih merasa di tangga kedua. Aku ? Aku bahkan belum menaiki anak tangga sama sekali, tapi entah sudah merasa diujung tangga atau malah masih di ruang bawah tanah”.
Setelah beberapa diskusi ringan di “rumah” kami malam itu, seperti biasanya fluktuasi tensi obrolan selalu naik turun mengikuti alur apa yang sedang dibahas pada saat itu. Hal wajar ketika dalam suasana seperti itu ada beberapa yang merasa sangat tinggi untuk dia memposisikan dirinya paling benar, ada juga beberapa yang memilih merendahkan dirinya sendiri serendah mungkin.
Bukan, aku disini bukan ingin membahas di posisi apa kau ini, kau bebas menentukan arah langkah kakimu. Yang perlu diingat ingat untukku sendiri, syukur syukur bisa mengingatkan juga untuk kau yang sedang meluangkan waktu membaca tulisan ini. Bahwa “kekurangan orang lain berakar dari kekurangan diri kita sendiri”. Kapan-kapan kita belajar bersama soal itu.
Maka ketika sudah ada sedikit rasa tinggi yang mengusikmu, ingatlah, di dalam dirimu masih banyak yang perlu kau benahi. Dan ketika kau merasa orang lain tidak bisa sebaik dirimu, perbaikilah dirimu sebelum orang lain benar-benar kau harapkan sehebat dirimu. Bahkan lazimnya, seperti postinganku sebelumnya, aku punya keunikanku, kau pun punya keunikanmu sendiri, lalu apa yang pantas kita banggakan ? Kita sama. Bedanya : kau hebat, aku bodoh.

0 komentar