“Kekurangan orang lain berakar dari kekurangan kita sendiri”
Beberapa waktu lalu di postingan keduaku aku sempat menyinggung hal ini untuk kita pelajari bersama. Dan mungkin ini jadi salah satu waktu yang tepat untuk membicarakan itu. Versiku, yang paling utama adalah bagaimana kita bisa berdiri di kaki kita sendiri, di tujuan, di prinsip kita sendiri. Aku bukan melarangmu untuk tidak bersosial dengan orang lain. Boleh, kau boleh membutuhkan, tapi tidak untuk bergantung pada orang lain.
Soal kekurangan, soal perspektif juga sebenarnya. Kurang dalam porsiku bisa jadi sudah cukup di porsimu. Begini saja, kita ciutkan lagi lingkupnya ke suatu hal yang sering bersinggungan dengan kehidupan kita. Karakter / sifat orang-orang misalnya. Seringkali kita membenarkan diri sendiri layaknya orang lain tak pernah benar, menyalahkan orang lain layaknya diri sendiri tak pernah salah. Berkomentar soal berita banjir / longsor seenaknya sendiri menyalahkan orang lain membuang sampah sembarangan. Bukankah kita juga salah satu bagian dari populasi manusia di bumi ? kenapa tidak kita mulai dari diri sendiri ? setidaknya jika mengambil satu sampah kecil didepanmu terlalu berat, jangan kau buang juga sampahmu disembarang tempat. Ego memang selalu membabibutakan kita semua.
Di lingkungan tempatku dewasa, tempatku belajar banyak hal, masih ada saja orang-orang tak terkecuali aku yang kadang merasa sangat tinggi, begitu mudahnya menyalahkan orang lain yang tidak berkontribusi banyak misalnya, atau bahkan sekedar bertegur sapa dengan saudaranya. Sebelum akhirnya harus kita sadari secepatnya, suatu saat yang kuat akan jadi lambat dan yang lemah akan jadi gagah, bisa jadi. Suatu waktu kita bisa saja di posisi mereka yang sedang kita salahkan, dan mereka bisa jadi di posisi kita, tunggu saja waktunya. Maka ketika sudah seperti itu, saling memantaskan mungkin jadi cara paling tepat.

0 komentar