Beberapa
waktu yang lalu, aku sempat merenungkan dan menemukan sebuah konsep yang kurasa
sesuai untuk diterapkan pada diriku sendiri. Perlu diingat lagi, setiap konsep
pemikiran, konsep hidup dan pola – pola mendasar lainnya tidak perlu kita paksakan
ke orang lain. Cukup ditempatkan dan disesuaikan saja.
Konsep yang
akan kusampaikan disini adalah soal “Keseimbangan”. Munculnya kesadaran
akan hal ini berawal dari sebuah forum di organisasi tempatku berkutat. Pada
kesehariannya, ada beberapa kawan yang disatu sisi ia terlihat sangat pandai
untuk membuat semua orang tertawa atau katakana saja dia adalah tipikal
humoris, dan disisi lainnya ia belum bisa menempatkan kapan dan dimana ia harus
bercanda, dan kapan dimana dia harus serius, terkadang aku jadi salah satu
diantara orang-orang seperti ini. Oh ya, lingkup yang sedang kuajak bicara soal
ini adalah di organisasi tempatku belajar banyak hal. Kasus –kasus semacam itu
tadi kurasa kurang tepat untuk saat ini. Tidak jadi masalah mungkin ketika kita
tidak menginginkan perkembangan disini.
Akhirnya aku
membayangkan sesuatu. Seandainya saja kita bisa berlatih professional untuk
bisa lebih menempatkan / menyeimbangkan sesuatu, seperti bercanda misalnya.
Kurasa akan lebih banyak orang yang nyaman dengan diri kita. Ketika di moment
santai kita bisa bercanda lepas, ketika di moment serius kita bisa
memperlihatkan keseriusan kita. Atau ketika kita belajar sembari bercanda,
dengan kita belajar dengan serius, tentu akan berbeda.
Banyak sekali
keseharian yang kita lakukan yang memerlukan keseimbangan. Bukankah pagi
diciptakan beriringan dengan sore, siang beriringan dengan malam, makan
beriringan dengan minum, lemah beriringan dengan kuat, pria beriringan dengan
wanita, dan aku beriringan denganmu.
Lama
sekali rasanya tidak bertegur sapa denganmu kawan-kawan hebatku, beberapa bulan
yang menyibukkanku, yang mengajarkanku pada banyak hal hebat, yang memaksaku
untuk tidak bisa membagi waktu untuk sekedar menulis disini di rumah
kesekianku. Kuharap kau dalam keadaan baik-baik saja.
Banyak
sekali yang ingin kuceritakan, sampai bingung sendiri harus kumulai dari mana,
perjuangan ?, pengorbanan ?, keluarga ?, cinta ?, semua ada di rentetan otakku
yang tidak ku tahu bisa seberapa lama menyimpan cerita-cerita itu. Lagi-lagi,
sebelum aku bercerita jauh soal apa saja yang sudah terjadi di beberapa bulan
trakhir, aku ingin mengingatkan kembali bahwa “kau yang setinggi itu, dan aku
yang serendah ini, kita hanya perlu sama-sama belajar”. Jujur sangat
disayangkan sekali ketika banyak moment hebat yang belum sempat kutulis, semoga
keteledoran ini tidak terulang lagi.
Beberapa
hari terakhir ini, aku selalu menghabiskan sore di suatu tempat sederhana yang
sedang kusukai, menyapa turunnya senja, mensyukuri nikmat tuhan, menulis,
menenangkan, sederhana sekali memang, tapi jujur ini adalah beberapa jam
favoritku dari 24 jam. Cerita berikutnya akan ku tulis setelah postingan ini.
Terima kasih, rumah.
"Kita adalah sekumpulan jiwa yang berasal dari hati sendiri. Berawal dari pikir sendiri. Bermula dari tekad sendiri. Berpijak dengan kaki sendiri"
Setiap kita, jangankan kesukaan. Skill dan kemampuan saja begitu beragam.
Setiap raga, jangankan paras muka. Hal kecil seperti sidik jari saja mustahil serupa.
Iya, kan?
Kita dilahirkan sebagai makhluk sempurna memang. Namun bukan berarti, kita menyepi hingga meniadakan yang lain. Tetap saja dia butuh mereka. Aku perlu kamu, kita semua harus saling membantu.
Namun jangan lupa! Meski kita Zoon Politicon, bukan berarti kita candu atau terlalu bergantung pada sesuatu yang bukan dari dalam kita!
Boleh saja, kita saling cerita. Saling berbagi. Saling menginspirasi. Saling tukar pikiran. Saling berpangku tangan. Atau saling yang lain dimana kita perlu lawan bicara.
Tapi, lagi-lagi aku bilang.
Bukan berarti kita harus candu atau terlalu bergantung pada sesuatu yang bukan dari dalam kita!
Kita punya cara sendiri dalam menggapai asa.
Kritik dan komentar orang sekitar boleh dan harus didengarkan. Namun perlu dibatasi, karena kita punya tuju yang berasal dari jiwa sendiri. Mengikuti setiap ingin dan cuitan mereka, hanya akan buat kita seperti dikejar harimau. Terus berlari ketakutan hingga panik tak tahu arah dan akhirnya? Tujuan kita terabai dan kita terlanjur jauh pun si harimau tak mau berhenti memburu.
Hidup memang begitu, kita yang jalanin dan orang lain yang ngomentarin!
Sebenarnya tak masalah jika jadikan masukan sebagai bentuk perbaikan.
Yang kurang tepat adalah,
Kita seringnya jadikan komentar mereka sebagai tempat berpijak.
Padahal kita punya tanah sendiri, punya lahan sendiri, punya metode sendiri, jangan sampai yang inti dari visi diri justru malah abai dan di poligami.
Ingat pesan ini,
"Kita adalah sekumpulan jiwa yang berasal dari hati sendiri. Berawal dari pikir sendiri. Bermula dari tekad sendiri. Berpijak dengan kaki sendiri"
“Kekurangan orang lain berakar dari kekurangan kita sendiri”
Beberapa waktu lalu di postingan keduaku aku sempat menyinggung hal ini untuk kita pelajari bersama. Dan mungkin ini jadi salah satu waktu yang tepat untuk membicarakan itu. Versiku, yang paling utama adalah bagaimana kita bisa berdiri di kaki kita sendiri, di tujuan, di prinsip kita sendiri. Aku bukan melarangmu untuk tidak bersosial dengan orang lain. Boleh, kau boleh membutuhkan, tapi tidak untuk bergantung pada orang lain.
Soal kekurangan, soal perspektif juga sebenarnya. Kurang dalam porsiku bisa jadi sudah cukup di porsimu. Begini saja, kita ciutkan lagi lingkupnya ke suatu hal yang sering bersinggungan dengan kehidupan kita. Karakter / sifat orang-orang misalnya. Seringkali kita membenarkan diri sendiri layaknya orang lain tak pernah benar, menyalahkan orang lain layaknya diri sendiri tak pernah salah. Berkomentar soal berita banjir / longsor seenaknya sendiri menyalahkan orang lain membuang sampah sembarangan. Bukankah kita juga salah satu bagian dari populasi manusia di bumi ? kenapa tidak kita mulai dari diri sendiri ? setidaknya jika mengambil satu sampah kecil didepanmu terlalu berat, jangan kau buang juga sampahmu disembarang tempat. Ego memang selalu membabibutakan kita semua.
Di lingkungan tempatku dewasa, tempatku belajar banyak hal, masih ada saja orang-orang tak terkecuali aku yang kadang merasa sangat tinggi, begitu mudahnya menyalahkan orang lain yang tidak berkontribusi banyak misalnya, atau bahkan sekedar bertegur sapa dengan saudaranya. Sebelum akhirnya harus kita sadari secepatnya, suatu saat yang kuat akan jadi lambat dan yang lemah akan jadi gagah, bisa jadi. Suatu waktu kita bisa saja di posisi mereka yang sedang kita salahkan, dan mereka bisa jadi di posisi kita, tunggu saja waktunya. Maka ketika sudah seperti itu, saling memantaskan mungkin jadi cara paling tepat.
Beberapa waktu lalu di postingan keduaku aku sempat menyinggung hal ini untuk kita pelajari bersama. Dan mungkin ini jadi salah satu waktu yang tepat untuk membicarakan itu. Versiku, yang paling utama adalah bagaimana kita bisa berdiri di kaki kita sendiri, di tujuan, di prinsip kita sendiri. Aku bukan melarangmu untuk tidak bersosial dengan orang lain. Boleh, kau boleh membutuhkan, tapi tidak untuk bergantung pada orang lain.
Soal kekurangan, soal perspektif juga sebenarnya. Kurang dalam porsiku bisa jadi sudah cukup di porsimu. Begini saja, kita ciutkan lagi lingkupnya ke suatu hal yang sering bersinggungan dengan kehidupan kita. Karakter / sifat orang-orang misalnya. Seringkali kita membenarkan diri sendiri layaknya orang lain tak pernah benar, menyalahkan orang lain layaknya diri sendiri tak pernah salah. Berkomentar soal berita banjir / longsor seenaknya sendiri menyalahkan orang lain membuang sampah sembarangan. Bukankah kita juga salah satu bagian dari populasi manusia di bumi ? kenapa tidak kita mulai dari diri sendiri ? setidaknya jika mengambil satu sampah kecil didepanmu terlalu berat, jangan kau buang juga sampahmu disembarang tempat. Ego memang selalu membabibutakan kita semua.
Di lingkungan tempatku dewasa, tempatku belajar banyak hal, masih ada saja orang-orang tak terkecuali aku yang kadang merasa sangat tinggi, begitu mudahnya menyalahkan orang lain yang tidak berkontribusi banyak misalnya, atau bahkan sekedar bertegur sapa dengan saudaranya. Sebelum akhirnya harus kita sadari secepatnya, suatu saat yang kuat akan jadi lambat dan yang lemah akan jadi gagah, bisa jadi. Suatu waktu kita bisa saja di posisi mereka yang sedang kita salahkan, dan mereka bisa jadi di posisi kita, tunggu saja waktunya. Maka ketika sudah seperti itu, saling memantaskan mungkin jadi cara paling tepat.
Hai! Aku kembali lagi dengan sebuah cerita tentang kemarin.
Selamat nikmatin yaa (:
Beberapa hari yang lalu, ada tiga hal yang bikin haru. Dada berdegup kencang, mata terbelalak, kaki gemeteran, sampe napas aja tertahan.
Alasannya adalah, karena sebuah harapan yang dicitakan, tiba-tiba Sang Maha Pendengar kabulkan!
Pertama, tentang kelancaran perkuliahan. Bersyukur dan merasa beruntung karena Allah mudahkan aku saat hati meminta mudahkan dalam pengumpulan tugas harian. Eh, bener-bener dimudahin banget.
Kedua, tentang pendaftaran sebuah event yang lumayan bergengsi dan tentunya meriah sekali. Allah kasih kesempatan untuk aku hadir menjadi saksi, padahal banyak orang yang mengantri tak bisa lolos seleksi.
Ketiga, tentang event juga. Bedanya ini perihal sastra. Dimana tak hanya ilmu saja, juga dapet hadiah bagi 100 pendaftar pertama. Dan, lagi-lagi Allah kabulkan pintaku hingga akhirnya dapet tiga hadiah sekaligus tanpa tapi.
Ah, sungguh! Bersyukur dan Beruntung sekali!
Nah, kawan ku tersayang.
Maksud dan tujuan aku berbagi kisah beberapa hari ke belakang hanya satu.
Tentang sebuah keyakinan. Pada Diri. Pada Semesta. Pada Sang Maha Kuasa!
Kita sebagai makhluk yang katanya sempurna, terkadang bahkan sering memiliki beragam pinta.
Hidup yang baik, makan yang kenyang, jangan hujan, libur kuliah, atau suatu pinta dan angan hidup lain yang lebih besar dari itu. Seperti, ingin jadi arsitek, seniman, musisi, dokter, ulama hingga presiden mungkin? Kita selalu dan pasti punya beragam pinta.
Permasalahannya,
Kita sering murung diri. Tak jarang pesimis, menghakimi pada jiwa bahwa angan itu terlalu besar dan mustahil tergapai. Iya kan?
Kita sering banget, merasa tak pantas pada sebuah mimpi, merasa takut dan khawatir pada sebuah harap. Kenapa begitu? Takut kalo cita yang tinggi justru buat kita jatuh semakin dalam? Takut kalo berangan yang panjang pun besar akan buat kita terhempas dan tiba-tiba dikucilkan banyak orang?
Itu dia masalahnya!
Aku, belajar satu hal pada sebuah kisah yang aku tulis sebelumnya di bagian atas tadi.
Ada sebuah pelajaran berarti tentang sebuah kehidupan, dalam urutan kejutan yang Allah kasih pada ketiga hal yang tadi aku sebutkan di atas. Pelajarannya adalah,
Keyakinan Pada Diri, Pada Semesta, Pada Sang Maha Kuasa!
Kita harus dan wajib yakin, meski pada sesuatu yang samar dan masih buram. Yakinkan saja, apakah yang samar itu menjadi tergapai atau menghilang? Yakinkan antara iya dan tidak! Dengan begitu, serius bahkan dua-rius malah! Keyakinan mu terhadap sesuatu yang samar itu, akan menjelma sebagaimana apa yang kau pilih dan sangkakan sebelumnya.
Jika kita yakin ia akan tergenggam, diri kita akan bangkit dan optimis! Semesta kita akan mendukung! Sang Maha Kuasa akan beri sesuai pinta.
Jadi?
Yakinlah, seyakin-yakinnya! (:
Selamat nikmatin yaa (:
Beberapa hari yang lalu, ada tiga hal yang bikin haru. Dada berdegup kencang, mata terbelalak, kaki gemeteran, sampe napas aja tertahan.
Alasannya adalah, karena sebuah harapan yang dicitakan, tiba-tiba Sang Maha Pendengar kabulkan!
Pertama, tentang kelancaran perkuliahan. Bersyukur dan merasa beruntung karena Allah mudahkan aku saat hati meminta mudahkan dalam pengumpulan tugas harian. Eh, bener-bener dimudahin banget.
Kedua, tentang pendaftaran sebuah event yang lumayan bergengsi dan tentunya meriah sekali. Allah kasih kesempatan untuk aku hadir menjadi saksi, padahal banyak orang yang mengantri tak bisa lolos seleksi.
Ketiga, tentang event juga. Bedanya ini perihal sastra. Dimana tak hanya ilmu saja, juga dapet hadiah bagi 100 pendaftar pertama. Dan, lagi-lagi Allah kabulkan pintaku hingga akhirnya dapet tiga hadiah sekaligus tanpa tapi.
Ah, sungguh! Bersyukur dan Beruntung sekali!
Nah, kawan ku tersayang.
Maksud dan tujuan aku berbagi kisah beberapa hari ke belakang hanya satu.
Tentang sebuah keyakinan. Pada Diri. Pada Semesta. Pada Sang Maha Kuasa!
Kita sebagai makhluk yang katanya sempurna, terkadang bahkan sering memiliki beragam pinta.
Hidup yang baik, makan yang kenyang, jangan hujan, libur kuliah, atau suatu pinta dan angan hidup lain yang lebih besar dari itu. Seperti, ingin jadi arsitek, seniman, musisi, dokter, ulama hingga presiden mungkin? Kita selalu dan pasti punya beragam pinta.
Permasalahannya,
Kita sering murung diri. Tak jarang pesimis, menghakimi pada jiwa bahwa angan itu terlalu besar dan mustahil tergapai. Iya kan?
Kita sering banget, merasa tak pantas pada sebuah mimpi, merasa takut dan khawatir pada sebuah harap. Kenapa begitu? Takut kalo cita yang tinggi justru buat kita jatuh semakin dalam? Takut kalo berangan yang panjang pun besar akan buat kita terhempas dan tiba-tiba dikucilkan banyak orang?
Itu dia masalahnya!
Aku, belajar satu hal pada sebuah kisah yang aku tulis sebelumnya di bagian atas tadi.
Ada sebuah pelajaran berarti tentang sebuah kehidupan, dalam urutan kejutan yang Allah kasih pada ketiga hal yang tadi aku sebutkan di atas. Pelajarannya adalah,
Keyakinan Pada Diri, Pada Semesta, Pada Sang Maha Kuasa!
Kita harus dan wajib yakin, meski pada sesuatu yang samar dan masih buram. Yakinkan saja, apakah yang samar itu menjadi tergapai atau menghilang? Yakinkan antara iya dan tidak! Dengan begitu, serius bahkan dua-rius malah! Keyakinan mu terhadap sesuatu yang samar itu, akan menjelma sebagaimana apa yang kau pilih dan sangkakan sebelumnya.
Jika kita yakin ia akan tergenggam, diri kita akan bangkit dan optimis! Semesta kita akan mendukung! Sang Maha Kuasa akan beri sesuai pinta.
Jadi?
Yakinlah, seyakin-yakinnya! (:
“Jaga yang nyata ada, sebelum kesempatan merebut nyata yang tak lagi bisa dijaga”.
Dimensimu, selalu berubah setiap waktunya. April, beberapa hari pertama dihidangkan beberapa kesibukan, program kerja, prioritas, kontinuitas dan kawan-kawan sejenisnya. Anggap saja dua kalimat tadi hanya pengalihan isu. April memantapkan tekadku untuk menetapkan, April cukup mengabaikan diriku sendiri untuk hanya sekedar berbenah, April kembali harus merasakan berpegangan pada sesuatu yang menyakiti secara perlahan, oh ya, april juga mengenalkan partner baru menulisku, Sofia, kalo kau mau lihat, ada di postingan ketiga blog ini. Kita masih sama-sama belajar.
Baru sampai di hari ke 14 nya, april sudah banyak sekali mengajarkan banyak hal, tak melulu soal cinta sepasang manusia, walaupun hal itu juga sedikit berkontribusi untuk mengubah aprilku lebih redup dari sebelumnya. Aku sedang tidak meminta perhatianmu, Aku hanya sedang sedikit bercerita, kau mau mendengarkan dengarkan, kau mau berkomentar silahkan. Sudah cukup gelap aprilku sampai detik ini.
Bicara soal apa yang bisa kita jaga, tentu saja apa yang kita miliki, Karena mustahil sekali rasanya ketika kita harus menjaga sesuatu yang bukan milik kita, lalu kenapa masih saja ada rasa kehilangan sesuatu yang bukan milik kita ? Ego terlalu dalam menggerogoti diri kita. Lagi-lagi april dengan magnet hitamnya mampu mengubah “sapa” menjadi “hampa”, mampu mengubah “hangat” menjadi “sengat”, mampu mengubah “dekat” menjadi “sekat”, mampu mengubah “hai, apa kabar” menjadi “tanpa kabar”.
Tenang saja, aku tak sepenuhnya menyalahkan april, justru sebaliknya, aku sangat berterima kasih pada april, pada kawan-kawanku yang terlibat dalam terang redupnya april kali ini, kau sangat menyadarkanku, bahwa selemah apapun kita, berdiri di kaki sendiri adalah cara paling aman, agar saat kita jatuh, saat dikecewakan, saat kehilangan, kita sadar betul bahwa kita sedang berdiri di kaki kita sendiri bukan di kaki orang lain, dan mungkin dampak negatifnya takkan separah ini.


